Vinaora Nivo SliderVinaora Nivo Slider

BELANJA HEMAT

Pembayaran



Bank Mandiri Cabang Universitas Airlangga Surabaya

No 1410009833567

a/n Mochamad Soebecha

PEMBAYARAN PAYPALL

Jam Layanan

Senin s/d Jum'at
Jam 8.30 s/d 16.00

Sabtu :
Jam 8.30 s/d 14.00

 

Minggu & hari Besar : LIBUR

PEMBELIAN ONLINE BUKA SELAMA 24 JAM SEHARI 7 HARI SE MINGGU

Pengiriman kami lakukan jam 9.00 s/d 14.00 Setiap Hari.
Pembelian yang melebihi jam tersebut akan kami kirim pada hari beikut nya.

Who's Online

We have 9 guests online

Mendeteksi Kelainan Mata Pada Anak

  • PDF

Mata terdiri dari organ-organ yang bisa dilalui dan membiaskan cahaya. Kemudian, melalui serabut-serabut saraf, bayangan sebuah benda akan terbentuk di dalam mata. Lalu otak mengubah rangsangan-rangsangan dari saraf tersebut menjadi kesan melihat. Jalur ini sebenarnya sudah siap pakai begitu bayi lahir. Tetapi karena sel-sel otak membutuhkan waktu dan latihan untuk berkembang, maka organ ini belum dapat mengartikan apa yang ditangkap oleh mata. Kesempatan anak untuk mengisi otaknya dengan berbagai pengalaman secara optimal, dapat dilakukan sampai ia berusia 5 tahun. Terutama pada 2 tahun pertama kehidupan anak, rangsangan pengertian berkembang dengan pesatnya. Pada saat inilah bantuan indera sangat diperlukan.

Banyak orang yang tidak menyadari kemampuan mata bayi sejak lahir. Padahal, pada minggu pertama setelah kelahirannya mata bayi akan otomatis berkedip kalau kita sentuh wajahnya. Kira-kira pada usia dua bulan, biasanya mata bayu juga akan bekedip kalau kita dekatkan tangan kita tanpa menyentuh wajahnya. Pada usia tiga bulan, kedua mata bayi seharusnya sudah dapat bekerja sama. Dan pada usia enam bulan, gerakan kedua belah matanya sudah stabil. Berdasarkan urutan perkembangan ini, orang tua bisa mengetahui sejak awal kalau terjadi kelainan mata pada bayinya.

Mendeteksi kelainan mata

Ada berbagai kelainan dan gangguan mata. Misalnya saja, mata malas, juling, kelainan refraksi (membiaskan cahaya), dan lain-lain. Umumnya kelainan refraksi yang terjadi pada usia muda diduga dari faktor bawaan. Karena itu bisa saja kedua orang tua tidak mengalami kelainan pada matanya. Agak sukar mendeteksi kelainan refraksi pada mata anak balita. Karena mereka sulit mengungkapkan keluhan, terutama pada mata mereka. Orang tua justru sering mengeluh karena anak-anak terlalu banyak nonton televisi.

Memang masyarakat masih pasif dalam memahami kesehatan mata. Sebelum kelainan atau gangguan tersebut benar-benar menghambat aktivitas anak, orang tua tidak tergerak untuk membawa anaknya ke ahli mata. Hal ini bisa saja terjadi karena orang tua tidak tahu bahwa anaknya mengalami kelainan mata. Beberapa patokan untuk mengetahui kelainan mata pada anak adalah:

  • Memperhatikan gerak bola mata. Di dalam ruang praktek dokter, pemeriksaan gerak bola mata bisa dilakukan dengan menggunakan kelereng berbagai ukuran. Sebenarnya orang tua juga dapat melakukan sendiri. Caranya dengan menggelindingkan bola di hadapan bayi. Perhatikan gerak bola mata bayi. Kalau mata bayi normal, kedua bola matanya akan bergerak mengikuti bola tersebut. Latihan ini bisa dilakukan untuk bayi usia di atas 6 bulan. Sejak bulan-bulan pertama, bayi sudah tertarik pada benda-benda bercahaya dan bergerak. Benda-benda ini bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi kelainan pada matanya.Begitu juga dengan benda-benda yang mengeluarkan bunyi, dapat membantu orang tua mengetahui apakah gerakan mata bayi normal, yaitu dapat mengikuti gerakan obyek.
  • Mencurigai kebiasaan baca yang buruk. Seorang anak yang mengalami kelainan refraksi pada matanya, akan memperlihatkan beberapa kebiasaan buruk. Kalau ia menderita myopi (melihat benda jauh kurang jelas), ia akan mendekatkan diri ke objek yang akan dilihatnya. Misalnya saja melihat televisi, membaca buku dan lain-lain. Kalau ia tetap tidak dapat melihat dengan baik walau sudah mendekatkan diri ke objek yang ingin dilihatnya, ia akan memicingkan matanya.
  • Kelainan astigmatisma atau kelainan bentuk kornea mata yang lebih dikenal dengan silindris bisa juga terjadi pada anak. Gejalanya seperi myopi, disertai dengan palingan kepala ke atas atau ke samping, atau ke bawah ketika melihat.
  • Hipermetropia atau kelainan mata yang mengakibatkan melihat dekat kurang jelas umumnya sukar diketahui keluhan jangka pendeknya. Baru ketika anak diminta untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat dekat, tampak bahwa mata anak mengalami gangguan. Keluhannya sering diikuti dengan mata berair, pusing, dan keluhan-keluhan mata yang tidak nyaman seperti gatal, dan mata merah. Kalau matanya diperiksa tidak tampak adanya kelainan. Tetapi setelah ditetsi obat khusus, barulah nampak jenis keluhannya.

Penanganan

Kalau keluhan-keluhan tersebut terdeteksi orang tua, mereka sebaiknya minta bantuan ahli mata. Biasanya, doktermata akan memeriksa penglihatan mata anak dengan alat-alat tertentu. Mungkin saja anak akan diminta menyebutkan atau mengenali huruf-huruf, atau gambar yang tertera di dinding. Kalau anak tidak dapat membaca huruf-huruf yang diajukan, dokter akan meneteskan obat khusus pada mata anak. Penetesan ini ditujukan untuk melumpuhkan akomodasi mata anak. Kemudian, dengan alat retinoskop, ukuran lensa kacamata ditentukan.

Pemeriksaan dilanjutkan dengan suatu alat yang disebut slit lamp. Guna mengecek apakah ada gangguan bentuk ataupun gangguan organik pada mata. Misalnya saja terdapat katarak, kekeruhan kornea mata, infeksi atau kelainan bawaan. Tanda-tanda semacam ini harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Bila kacamata sudah pasti ukurannya dan sudah siap digunakan, alangkah bijaksananya kalau kacamata tersebut dicek kembali kebenarannya. Jangan sampai terjadi kesalahan pembuatan yang tentu saja bisa merugikan mata anak.

Pemeriksaan rutin

Kacamata ialah alat untuk memperbaiki penglihatan, bagi mereka yang menderita kelainan semacam mata malas. Untuk pengobatan, kacamata harus memiliki ukuran yang benar dan tepat. Sebab, untuk kelainan-kelainan refraksi ketepatan ukuran tersebut sangat menentukan keberhasilan pengobatan.

Untuk mempertahankan ketepatan tersebut, ada baiknya orang tua yang anak-anaknya memiliki kelainan refraksi memeriksakan anaknya secara rutin setiap 6 bulan sampai 1 tahun, ke dokter mata. Karena mungkin saja ukuran lensa yang digunakan sudah berubah. Perubahan ini terjadi karena gangguan refraksi pada mata anak berkurang atau justru semakin parah. Khusu untuk anak yang menderita mata malas, evaluasi ketajaman penglihatan perlu dilakukan antara setiap dua minggu sampai dua bulan.

Sebenarnya bukan hanya anak-anak dengan kelainan mata saja yang harus mendapatkan perhatian orang tua. Pemeriksaan rutin harus dilakukan pula kepada anak-anak normal lainnya begitu anak masuk sekolah. Pemeriksaan ulang setiap dua tahun pada anak usia sekolah  dasar, dan setiap tiga tahun untuk anak sekolah lanjutan tingkat pertama sebaiknya dilakukan juga. Dengan cara ini pula kemungkinan terjadinya kelainan refraksi mata pada anak bisa diketahui sejak dini dan dapat diperbaiki secepat mungkin.

Oleh: dr. Vidyapati Mangunkusumo